Tim kecil yang bosen sama layanan proxy yang muter-muter
Kami mulai karena butuh proxy buat kerjaan sendiri, dan tiap penyedia yang kami coba entah kemahalan, entah bahasanya nggak ngerti, entah harus bayar setahun di muka.
Empat hal yang kami pegang
Kami bilang kalau produk kami nggak cocok
Kalau kerjaan lo nggak butuh proxy mahal, kami bakal bilang. Kalau nggak butuh proxy sama sekali, kami juga bakal bilang. Pelanggan yang kecewa itu lebih mahal daripada penjualan yang batal.
Harga kelihatan sebelum lo bayar
Nggak ada biaya yang muncul belakangan. Kalau ada yang bikin tagihan lo naik — misalnya targeting kota yang dihitung 2x — itu ditulis di layar sebelum lo pakai.
Kuota nggak kami bikin hangus
Gampang banget naruh tanggal kedaluwarsa di kuota biar lo beli lagi. Kami nggak lakuin itu. Sisa GB tetap ada sampai benar-benar terpakai.
Dijawab orang, pakai bahasa manusia
Bukan robot yang ngirim tautan dokumentasi. Kalau lo nggak ngerti istilahnya, kami jelasin pakai perumpamaan sampai lo ngerti.
Angka yang bisa kami tunjukin asalnya
Kami nggak majang angka yang nggak bisa kami tunjuk sumbernya. Empat ini bisa — semuanya kebaca dari sistem yang sama yang ngelayanin akun lo.
Jumlah negara diukur dari jaringan kami pada 2 September 2026 dan bisa naik-turun; tiga angka lainnya adalah batas yang kami tetapkan sendiri.
Ceritanya panjang, ini singkatnya
Awalnya kami bikin perkakas riset harga buat toko sendiri. Butuh proxy, dan tiap penyedia luar minta kartu kredit — sesuatu yang nggak semua orang di Indonesia punya. Yang lokal ada, tapi jual per IP dengan masa aktif yang bikin duit kebuang kalau nggak kepakai.
Jadi kami bangun yang kami sendiri pengen pakai: bayar per GB, bayar pakai QRIS, kuota nggak hangus, dan halaman bantuan yang ngomongnya kayak orang. Ternyata banyak yang butuh hal yang sama.
Sekarang produknya nambah — ada CloudPhone juga — tapi aturannya tetap sama: harga kelihatan, nggak ada jebakan, dan kalau produk kami nggak cocok buat lo, kami bakal bilang.
Ada yang mau ditanya?
Serius, tanya aja. Termasuk pertanyaan yang lo pikir bodoh — itu biasanya justru pertanyaan yang paling penting.